Ziarah di 10 Wisata Religi Kota Tuban ini Bisa Datangkan Berkah

0
4249

Ziarah di 10 Wisata Religi Kota Tuban ini Bisa Datangkan Berkah – Tuban, sebuah kota yang terletak di Provinsi Jawa Timur ini menjadi salah satu koita yang sangat direkomendasikan bagi anda yang ingin berwisata religi. Salah satu kota Wali ini dikenal memiliki banyak lokasi wisata yang mengandung energi spiritual Selain untuk meminta keberkahan, wisata religi kota Tuban juga bisa digunakan untuk mengasah kekuatan spiritual anda. Lalu, dimana saja 10 Lokasi Wisata Religi dan tempat ziarah di kota Tuban? Menurut Kang Masrukhan, seorang pakar Spiritual dan Ilmu Supranatural pernah mengasah keilmuwan batinnya di 10 Lokasi berikut ini :

Masjid Ashabul Kahfi Perut Bumi Al- Maghribi

Masjid ini menjadi wisata religi kota Tuban yang sangat unik, dimana masjid ini berada dalam sebuah goa. Masjid yang memiliki nama Masjid Ashabul Kahfi Al – Maghribi ini terletak didalam goa di Jalan Gedungombo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Seni Arsitektur yang dibuat oleh Kyai Subhan begitu indah di dalam goa tersebut. Keindahannya sangat dikenal hingga ke mancanegara.

“Unik dan nampak luar biasa, jika kita masuk ke dalamnya pasti membuat kita bertasbih mengagumi kuasa Allah ‘Subhanallah’. Selain jadi masjid kan goa ini berfungsi sebagai pondok pesantren juga. Saya pernah kesana, memang sangat positif sekali, banyak sunan dan kiyai yang ada disana, masih menunggui dan ya mereka akan senang jika orang banyak berdoa di tempat itu”, imbuh Kang Masrukhan.

Masjid Agung Tuban

Setiap kota hampir dipastikan memiliki sebuah masjid Agung, tak terkecuali kota Tuban. Kang Masrukhan menyatakan jika masjid ini dulunya dibangun ketika masa pemerintahan Adipati Raden Ario Tedjo yang merupakan bupati Tuban ke 7 dan direnovasi untuk pertama kali pada masa pemerintahan Bupati Raden Tumenggung Kusumodigdo, Bupati Tuban ke 35.

“Masji Agung Tuban itu kan dekat dengan makam Sunan Bonang dan masjid ini adalah cikal bakal dari penyebaran Agama Islam di daerah Tuban dan Jawa Timur. Dulu kan Sunan Bonang memulai ajaran Islam dari sini, dari masjid Agung inilah beliau menyebarkan kepercayaan Islam pada masyarakat sekitar. Siapapun yang mau datang ke masjid ini, melaksanakan sholat minimal 2 rakaat atau lebih maka Insya Allah akan diberikan berkah berupa keselamatan dan keberuntungan dalam hidupnya. Sunan Bonang pernah membisikkan pada saya demikian saat saya berkunjung ke masjid ini”, jelas Kang Masrukhan.

Makam Sunan Bonang

Salah satu wali Songo yang terkenal dari kota Tuban, Sunan Bonang sangat berpengaruh terhadap Islam di Tanah Jawa. Nama Bonang sendiri diambil dari nama salah satu desa di Rembang, dan makam aslinya berada di desa Bonang, Namun yang paling sering dikunjungi adalah makamnya di Tuban. Makam ini pun menjadi wisata religi kota Tuban yang banyak dikunjungi, terlebih menjelang Ramadhan.

“Dulu kan sejarahnya ada dua makam karena dulu itu ada satu murid beliau dari Madura sangat mengagumi Sunan Bonang. Nah, setelah kiyai Sunan meninggal, murid ingin membawa kain kafdan dan pakaian beliau ke Madura. Tapi aksi ini gagal karena murid lainnya keburu mengetahuinya, kemudian merebutnya dan makamnya ya ada disini, di Tuban”, jelas Kang Masrukhan menceritakan sejarah makam Sunan Bonang.

Makam Syeh Maulana Ibrahim Asmaraqandi

Wisata religi kota Tuban berikutnya yaitu makam Syeh Maulana Ibrahim Asmaraqandi, sang ayahanda dari Sunan Ampel. Sekitar tahun 1362 Saka/1440 Masehi syeh maulana datang ke Jawa, namun beliau tidak langsung mendarat di jawa melainkan singgah dulu di Palembang. Syeh Maulana Ibrahim Asmaraqandi berasal dari Timur Tengah, yaitu daerah Samarkand. Beliau datang ke Jawa, yaitu di Gresik dan menikahi adik istri raja Majapahit yaitu Dewi Darawati dan lahirlah Sunan Ampel dari pernikahan tersebut.

“Syeh Maulana Ibrahim Asmaraqandi datang itu mau menyebarkan ajaran Islam, caranya dia dengan menikahi adik istrinya Raja Majapahit. Lalu Sunan Ampel lahir, menyebarkan agama Islam juga. Syeh ini kan datang dari Samarkand, orang Jawa susah lidahnya ngomong Samarkand, jadilah namanya Asmaraqandi”, tukas Kang Masrukhan.

Makam Sunan Bejagung Lor

Sayyid Abdullah Asy’ari bin Sayyid Jamaluddin Kubro atau biasa dinamai dengan Sunan Bejagung Lor merupakan adik dari Syeh Maulana Ibrahim Asmaraqandi. Salah satu Sunan yang berasal dari Saudi Arabia ini datang ke Jawa guna memecahkan masalah ekonomi masyarakat Jawa saat itu (monopoli dagang) dan juga menyebarkan agama Islam di Jawa. Sunan Bejagung wafat dan dimakamkan di Desa Bejagung, Kecamatan Semanding atau berjarak 2 KM k arah selatan dari pusat kota Tuban.

“Sunan Bejagung Lor itu masih punya garis keturunan dengan Nabi Muhammad SAW, beliau sangat bertaqwa, penyabar dan beliau itu cara menyebarkan agamanya unik, lewat perdagangan. Jadi beliau mengajarkan konsep berdagang ala Rasulullah dulu. Jujur, tidak banyak untung dan yang penting ramah saat melayani pelanggan. Jadi barang siapa datang ke makam beliau dan berdoa, akan mendapat berkah berupa kelancaran rezeki dan pelarisan”, kata Kang Masrukhan

Makam Sunan Bejagung Kidul

Wisata religi kota Tuban berikutnya yaitu Makam Sunan Bejagung Kidul yang letaknya tak jauh dari Makam Sunan Bejagung Lor, yaitu jaraknya sekitar 400 meter saja. Keduanya dipisahkan hanya dengan sebuah jalan kampung. Sunan Bejagung kidul sejatinya adalah Syeh Hasyim Amaluddin, beliau merupakan menantu dari Sunan Bejagung Lor. Menurut penuturan Kang Masrukhan, meski tidak seramai makam Sunan Bejagung Lor, namun berdoa / berziarah di makam Sunan Bejagung Kidul juga banyak berkah yang bisa didapatkan. Salah satunya adalah ketenangan hati dan ketentraman hidup.

Makam Sunan Geseng

Sunan Geseng atau nama aslinya Kyai Cokrojoyo adalah murid Sunan Kalijaga. Dahulu kala Sunan Kalijaga memerintahnya untuk menunggunya datang kembali dan menancapkan sebilah bambu dihadapannya. Dalam waktu yang cukup lama, sebilah bambu yang ditancapkan tersebut menjadi rimbun. Untuk membangunkan Cokrojoyo, Sunan Kalijaga membakar pohon bambu tersebut dan Cokrojoyo hangus (Geseng) namun tidak meninggal. Sejak saat itulah beliau dinamakan Sunan Geseng. Makam Sunan Geseng berada di Desa Gesing, Kecamatan Semanding Tuban dan menjadi wisata religi kota Tuban.

“Dulu saya pernah datang ke makam Sunan Geseng dan disana itu luar biasa auranya. Saya pernah dapat wangsit disana saat meditasi, ada bisikan yang menyatakan bahwa berdoa/ berziarahlah disini maka kamu akan mendapatkan semangat hidup yang tinggi, sukses di dunia dan akhirat. Ya, itu yang saya dapatkan”, jelas Kang Masrukhan.

Makam Syech Achmad Cholil

Makam Syech Achmad Cholil terletak di Desa Rawasan, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban. Makam ini ditemukan di tahun 2000 oleh Muhammad Nawawi (Mbah Nawawi), melalui komunikasi spiritual. Di sekitar makam terdapat sebuah sumur yang dikeramatkan, sumur tersebut tidak pernah surut dan tidak bertambah banyak meskipun terjadi hujan. Pernah suatu saat air sumur disana naik ke atas, dan tak lama kemudian terjadi bencana Tsunami di Aceh pada tahun 2004. Makam ini akhirnya jadi wisata religi kota Tuban yang ramai dikunjungi.

Makam Syeh Subakir

Tokoh Islam pertama yang datang di Pulau Jawa yaitu Syeh Subakir. Menurut penuturan Kang Masrukhan, tokoh ini juga sangat berjasa atas terbentuknya pulau Jawa ini.

“Dulu kan Jawa itu dataran liar, sering gempa, sangat angker dan banyak jin yang menghuni. Kemudian Syech Subakir mengusir Jin tersebut dan menancapkan 3 paku bumi agar Pulau Jawa tidak sering terjadi gempa. Sebenarnya makam Syeh Subakir itu tidak ada di Jawa, di sini hanya peninggalannya saja. Di Tanah Jawa sendiri kan makamnya ada dua, saya pernah datang kesana. Yang pertama di daerah pegunungan Tidar, Jawa Tengah dan yang kedua ada Desa Tasikharjo, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban. Tapi memang keduanya didatangi Syeh Subakir kalau memang kita datang, ziarah, meditasi berdoa secara khusyuk dan meminta pada Tuhan hal yang baik serta positif. Sebuah wisata religi kota Tuban yang bagus”, tutur Kang Masrukhan.

Klenteng Kwan Sing Bio

Tak hanya wisata religi kota Tuban hanya untuk umat Islam, bagi non Islam pun terdapat wisata religi. Klenteng Kwan Sing Bio, sebuah Klenteng yang terletak di pusat kota Tuban ini merupakan salah satu yang terbesar di Asia. Klenteng ini menganut ajaran Tri Dharma yaitu Konghucu, Budha dan Tao, itulah kenapa klenteng ini dinamakan Klenteng Kwan Sing Bio yang berarti memuja dan menghormati Dewa Kwan Kong.

“Unik ya, Salah satu keunikan klenting ini yaitu adanya gerbang yang berbentu kepiting. Dulu ceritanya ikon kepiting ini diambil karena klenteng ini kan dibangun di daerah tambak yang banyak kepitingnya. Jadi simbol kepiting juga dipercaya dapat melindungi klenteng dan umatnya dari unsur – unsur jahat. Itu kepercayaan orang China. Tapi saya juga datang kesana, ya mungkin yang datang adalah energi-energi positif yang bukan dari energi Ilahiah, tapi dewa-dewa. Mereka juga suka kalau orang datang bawa dupa, bawa sesajennya orang China. Itu kan tradisi mereka”, pungkas Kang Masrukhan.

Itulah 10 wisata religi kota Tuban yang bisa anda kunjungi untuk berziarah dan meminta keberkahan. Semoga bermanfaat dan salam sejahtera.

 

6,914 total views, 2 views today