Peninggalan Sunan Kudus, Sejarah Tradisi Dandangan Sebelum Ramadhan

0
2317

Peninggalan Sunan Kudus, Sejarah Tradisi Dandangan Sebelum Ramadhan – Tradisi Dandangan merupakan sebuah tradisi peninggalan Sunan Kudus atau Sunan Muria yang menjadi salah satu hal wajib sebelum Ramadhan. Sepanjang jalan 1,5 KM dari simpang tujuh ke arah barat hingga Menara Kudus begitu banyak penjual aneka makanan, produk lokal berupa kerajinan, kain, sepatu, baju, dan barang antik. Para pedagang itu diizinkan dan leluasa berjualan di tengah jalan. Tradisi Dandangan merupakan sebuah pasar kaget di Kudus menjelang bulan puasa.

Usut punya usut tradisi ini sudah dimulai sejak Sunan Muria atau Sunan Kudus masih ada. Menurut Denny Nur Hakim, juru bicara Yayasan Masjid Menara Kudus, menjelaskan sejarah Dandangan berasal dari suara bedug yang ditabuh yang menjadi tanda bulan Ramadhan dimulai. Suara bedug ini dikenal dengan nama Dandangan menurut sejarahnya. Dari suaranya, “Dang! Dang! Dang!” jika dipukul di tengah dan jika dipukul dipinggir bunyinya “Dug! Dug! Dug! Dari sinilah nama Dandangan ditradisikan sebelum Ramadhan sebagai tradisi peninggalan Sunan Kudus.

Kang Masrukhan : Dandangan bagus untuk Wisata Kudus dan Berkah Bagi Pedagang

Seorang Pakar Spiritual Kang Masrukhan menyatakan sangat senang dengan tradisi Dandangan yang dinilainya sebagai tradisi peninggalan Sunan Kudus yang sangat bagus untuk bersosialisasi dan mengenal lebih jauh tentang kota kudus. Kepada kami Tim Majalah Parapsikologi beliau menyatakan, “Sangat bagus itu untuk bersosialisasi, mengenal kota Kudus lebih jauh dan juga untuk destinasi wisata itu. Juga bagus untuk mengenalkan Kudus sebagai kota santri”, ujar Kang Masrukhan.

Bahkan kata Kang Masrukhan, makam Sunan Kudus akan menjadi lebih ramai jika dandangan diselenggarakan. Sehingga selain mengunjungi makam Sunan Muria, pengunjung juga bisa berbelanja produk lokal di pasar Kaget “Dandangan”. Hal ini membawa energi positif bagi kota Kudus mengingat orang yang datang untuk berdoa, untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa serta untuk mengasah kemampuan spiritual mereka.

“Kan bagus itu, banyak orang datang berdoa, ziarah, menghormati wali, mencari berkah dan yang paling baik lagi kan kekuatan doa itu sangat positif bagi keamanan kota ini. lha banyak dikunjungi orang dipakai berdoa kok. Berkahnya apa? Jelas berkah bagi para pedagang, bisa laris, omset naik. Ya nggak? Sebuah peninggalan Sunan Kudus yang sangat luar biasa bagi saya. Tradisi ini wajib dilestarikan” Pungkas Kang Masrukhan.

Menurut Sejarah, dahulu pengumuman dimulainya puasa itu juga dihadiri oleh murid-murid Sunan Kudus, seperti Sultan Trenggono dari Kerajaan Demak, Sultan Hadirin dari Jepara, hingga Aryo Penangsang dari Blora datang ke Kudus. Masyarakat dari luar Kudus, juga antusias menunggu berlama-lama di depan Masjid Menara Kudus. Peninggalan Sunan Kudus ini pun diuri-uri (dijunjung tinggi) sampai sekarang.

Menurut Kang Masrukhan sebagai putra daerah Kudus, tradisi berkumpul di depan masjid jelang Ramadan tersebut kemudian menjadi tradisi rutin. Beberapa warga ada yang berjualan makanan tradisional siap saji. Aktivitas di pasar berlangsung mulai subuh hingga siang hari. Dilanjutkan berjualan makanan pada sisi timur jalan depan masjid, mulai dari sore hingga kembali subuh. Kegiatan ini berlangsung hanya sehari. Sebuah berkah peninggalan Sunan Kudus yang sangat bermanfaat hingga saat ini. Barakallah.

3,528 total views, 2 views today