Ngunduh ‘Tirta Wersa, Ritual Energi Kehidupan

0
1253

Ngunduh ‘Tirta Wersa, Ritual Energi Kehidupan – Di lereng Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Surowono, Desa Trangkil, Kec. Kemalang, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah memiliki sebuah ritual khusus yang rutin dilakukan di sepanjang tahun. Ritual khusus tersebut diyakini sebagai wujud rasa syukur warga masyarakat akan turunnya air hujan sebagai pancaran energi kehidupan. Ritual Ngunduh Tirta Wersa atau dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai ngunduh air hujan ini merupakan kegiatan penyerapan air hujan melalui ritual tertentu.

Awal mula adanya ritual ini adalah jarangnya air hujan turun di daerah ini untuk mengguyur bumi mereka, kesulitan air bersih pun terjadi di wilayah ini maka tak heran jika jatuhnya air dari langit sebagai hujan menjadi anugerah terbesar bagi warga dusun Surowono ini. Datangnya hujan satu atau dua bulan di musim penghujan menjadi berkah luar biasa sehingga kesempatan ini tak disia-siakan oleh warga untuk mengumpulkan air bersih. Energi dari ritual pengumpulan air hujan ini dipercaya mampu menjaga ketersediaan air bersih untuk warga sampai datangnya musim penghujan tahun depan sehingga warga tak terlalu mengalami kesulitan mencari air bersih saat kemarau melanda.

Proses ritual yang terjadi selama berhari-hari ini memiliki rangkaian ritus-ritus yang menjadi warisan tradisi para leluhur terhadap masyarakat lereng Merapi bagian timur ini. Ritual dandan kali menjadi ritus atau rangkaian pertama di hari pertama dalam ritual ngunduh Tirta wersa, dimana dalam ritual ini semua warga bergotong royong membersihkan saluran air menuju embung yang akan menampung air hujan dalam jumlah banyak.

Air dalam embung ini banyak dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk mencuci dan mandi. Proses pengumpulan air dalam botol-botol plastik (menyerupai botol-botol aqua dan minuman kemasan lainnya) dan tandon air juga berlangsung di hari pertama. Dalam acara pengunduhan air hujan ini masyarakat Surowono mengumpulkan sekitar 10.000 botol plastik setiap tahunnya. Air yang ada dalam 10.000 botol plastik ini berisi total sekitar 15 ribu liter air bersih yang dipakai warga untuk minum dan memasak.

Prosesi umbul donga menjadi acara puncak dari ritual ngunduh Tirta Wersa ini. Umbul donga ditujukan untuk mendo’akan semua air yang telah dikumpulkan oleh para warga agar menjadi berkah dalam kehidupan masyarakat Surowono. Agar air yang telah terkumpul itu menjadi energi bagi kehidupan dan bisa menyebar ke seluruh penjuru desa maka air-air dalam botol plastik sebanyak 10.000 tadi disusun menjadi gunungan dan diarak mengelilingi desa Surowono.

Uniknya, dalam upacara umbul donga ini seluruh pemuka Agama mulai dari Islam, Kristen, khatolik, Hindu dan Budha semua tumplek blek diatas panggung dan mendoakan air itu secara bersama-sama yang tentunya menurut keyakinan dan kepercayaan serta ajaran masing-masing agama. Hal ini sangat memupuk rasa persatuan antar warga dan sangat patut untuk ditiru karena semua kebersamaan tersebut hanya memiliki satu tujuan yang sama yakni mengharapkan berkah serta rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa bagi semua warga.

Selain gunungan yang berisi air hujan dalam botol-botol plastik, dalam kirab tersebut juga terdapat gunungan yang amat menarik yaitu gunungan yang terbuat dari hasil bumi seperti buah-buahan, sayuran, serta berbagai jenis umbi-umbian. Filosofi dari ritual ini menurut warga adalah karena hujan adalah berkah yang tak terkira yang datangnya dari Tuhan, seringkali berkah berupa hujan ini diingkari oleh manusia. Padahal air merupakan sumber energi dalam kehidupan sehingga melalui daur dan siklusnya dunia ini bisa berjalan. Sehingga dari sini nenek moyang mereka mengadakan ritual seperti ini sebagai bentuk rasa syukur tiada tara terhadap karunia dan nikmat Tuhan.

Jika Anda Berminat untuk Ritual Pesugihan Tanpa Tumbal, Anda Bisa Klik dan Baca Selengkapnya.

861 total views, 2 views today