Mengerikan! Ritual Malam Satu Suro Ini Paling Sering Dilakukan Paranormal

0
2753

Mengerikan! Ritual Malam Satu Suro Ini Paling Sering Dilakukan Paranormal – Malam pergantian tahun atau tahun baru biasanya identik dengan perayaan, pesta dan kemeriahan. Namun berbeda dengan pergantian tahun Jawa, dimana masyarakat justru merasa ngeri dan takut berada di luar rumah. Mengapa? Ya, malam satu suro adalah malam dimana orang Jawa melakukan beberapa ritual yang disakralkan. Terlebih di kalangan paranormal, pakar ilmu supranatural dan ilmu spiritual. Paranormal ini melakukan serentetan ritual atau upacara adat yang bertujuan untuk mengasah kekuatan, menjaga kesaktian ilmu yang telah dimiliki.

Lalu, apa saja yang dilakukan pada malam satu suro ini? Bersama kami sudah ada Kang Masrukhan, seorang Paranormal asal Kudus Jawa Tengah yang sudah malang melintang di bidang supranatural sejak satu dekade terakhir ini. Kepada tim majalah Parapsikologi beliau bercerita tentang ritual apa yang dilakukan di malam Suro itu. Berikut penuturan Kang Masrukhan.

Malam Satu Suro, Malamnya Asah Senjata

Pada malam satu suro ini biasanya Kang Masrukhan melakukan ritual untuk mengasah kemampuan pusaka yang dimilikinya dari hasil penarikan ghaib. Sedangkan untuk pusaka yang didapat dari hasil ritual / hasil pengisian tidak perlu dibersihkan di malam keramat ini.

“Malam Satu Muharram atau satu suro itu kan tradisi Islam ya, ISLAM JAWA atau para pemeluk agama Islam di tanah Jawa. Kadang masih saja ada orang yang mengatakan ini musyrik atau syirik. Padahal menurut saya pribadi, tidak demikian. Toh ritual yang dilakukan adalah berdoa, perbanyak wirid dan mendoakan arwah para leluhur juga agar tenang disana. Kita yang masih hidup ini menjadi penerus yang lebih baik lagi ke depannya, diberikan kelancaran rezeki, keberkahan hidup, kesuksesan dan diberi keselamatan itu paling penting”, ujar Kang Masrukhan.

Lalu, apa saja Kang ritual malam satu suro yang paling sering dilakukan paranormal?

Ada banyak, yang pertama ritual Ngumbah Keris, kedua Kirab koleksi benda pusaka Keraton Surakarta, Nonton wayang kulit semalam suntuk, Kirab Kebo Bule di Keraton Surakarta Mubeng beteng di Keraton Yogyakarta, Tirakatan dan Tapa Bisu. Kalau saya pribadi melakukan beberapa saja, yaitu ritual ngumbah keris, tirakatan dan tapa bisu. Kalau kirab dan nonton wayang itu biasanya kan perayaannya masyarakat sama orang keraton ya”, tambah Kang Masrukhan.

Berikut adalah penjelasan masing-masing ritual malam satu suro yang sudah disebutkan Kang Masrukhan diatas.

Ritual Ngumbah Keris

Ritual ini biasa disebut sebagai ritual cuci keris, dimana pusaka keris disucikan agar khodam yang ada tetap betah di dalamnya, diberikan makanan dan agar aura negatif juga hilang. Masyarakat Jawa yang amat lekat dengan senjata keris selalu mengagungkan senjata ini sehingga harus disucikan di malam satu suro .

Mengapa orang sakti atau paranormal melakukan ritual ngumbah keris setiap 1 Muharram?

“Karena kan 1 Muharram adalah malam penuh keramat, malam penuh dengan kekuatan magis. Karena pusaka-pusaka itu juga dikeramatkan, makanya perlu dirituali di malam 1 Suro, agar kekuatan gaibnya bertambah” Jelas Kang Masrukhan.

Kirab Koleksi Benda Pusaka Keraton Surakarta

Perayaan ini biasa dilakukan oleh pihak keraton Surakarta / Solo. Pihak keraton biasanya secara besar-besaran melakukan ritual ngumbah keris lalu diwajibkan untuk meng-kirab koleksi pusaka yang merupakan peninggalan dari Dinasti Kerajaan Mataram. Kirab pusaka tersebut diperuntukkan khusus menyambut tahun baru dalam penanggalan Jawa yang disebut ‘Tahun Sultan Agungan’ yang jatuh pada 1 Suro 1948 atau 25 Oktober 2014.

“Yang saya tahu kirab di keraton Solo ini tidak semua benda pusaka, hanya beberapa saja dan itu pun disesuaikan dengan kondisi dan situasi. Jika khodam dalam pusaka tidak berkenan yang tidak diadakan kirab, jadi hanya beberapa pusaka saja meski yang dimiliki keraton ada ratusan. Biasanya belasan pusaka paling mentok, tidak semua. Tidak diijinkan leluhur”, ujar Kang Masrukhan.

Nonton Wayang Kulit Semalam Suntuk

Malam satu suro juga bisa dijadikan ajang tontonan kesenian wayang. Wayang adalah seni khas dari Jawa yang sangat legendaris, bahkan digunakan Sunan Kalijaga sebagai media dakwah. Tradisi dan warisan budaya Jawa ini tak pernah lepas dari tiap momen penting, khususnya adat di Yogyakarta. Apalagi malam Satu Suro di kawasan pantai selatan dengan segala macam pernak-pernik mistisnya. Dalam memperingati malam Satu Suro, biasanya warga kerap melakukan lek-lekan atau melek semalam suntuk. Dan ritual ini menjadi sebuah media agar warga yang memperingati Malam Satu Suro tidak mengantuk.

“Malam Satu suro itu kan sebenarnya ajang dari nguri uri atau melestarikan adat Jawa, salah satunya ya wayang. Maka tak heran bila wayang bisa digelar semalam suntuk di malam tahun baru ini”, Kang Masrukhan menjelaskan.

Kirab Kebo Bule di keraton Surakarta

Kirab Kebo Bule ini merupakan ritual Keraton Kasunanan Surakarta. Kirab ini Kebo Bule ini juga digelar saban malam satu Suro, di mana sekawanan kerbau (kebo) yang dipercaya keramat, yaitu Kebo Bule Kiai Slamet. Konon kerbau ini bukan sembarang kerbau. Hewan ini merupakan hewan klangenan / kesayangan Paku Buwono II sehingga dianggap sebagai pusaka keraton yang juga harus diritualkan di malam satu suro. Adat Jawa yang masih begitu kental akan nampak sekali ketika malam 1 muharram ini tiba.

“Biasanya kan kalau ada kirab kebo bule itu orang-orang banyak yang berjalan di pinggiran sambil mengikuti jalannya kirab. Mereka berebut ingin menyentuh kebo bule ini, kan mereka anggap kalau bisa menyentuh kebo bule maka bisa dapat berkah”, imbuh Kang Masrukhan.

Mubeng Beteng Keraton Yogyakarta

Malam satu suro akan sangat terasa bila anda datang ke Beteng Keraton Yogyakarta. setiap malam Satu Suro digelar acara mengarak benda pusaka mengelilingi benteng keraton yang diikuti oleh ribuan warga Yogyakarta dan sekitarnya. Selama melakukan ritual mubeng beteng ini tidak diperkenankan berbicara. Hal ini melambangkan seperti halnya orang sedang bertapa. Inilah yang dikenal dengan istilah Ritual tapa bisu mubeng beteng.

Tirakatan

Tirakatan diambil dari kata ‘Thoriqot’ atau jalan, dan bagi masyarakat Jawa diartikan sebagai mencari jalan agar selalu dekat dengan Allah. Bagi orang penganut aliran Islam Kejawen maka ia akan melakukan ritual tirakatan ini setiap malam satu suro. Sepanjang bulan Suro masyarakat Jawa meyakini untuk terus bersikap eling (ingat) dan waspada. Eling artinya manusia harus tetap ingat siapa dirinya dan di mana kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan.

Tapa Bisu

Tapa Bisu adalah ritual menutup mulut atau ritual diisi dengan doa dalam hati, wirid dan dzikir dalam hati tanpa harus berbicara dengan siapapun selama semalam suntuk. Selain untuk introspeksi diri, tradisi Tapa Bisu yang di lakukan di kota Yogyakarta ini dilakukan untuk memohon perlindungan dan keselamatan kepada Allah SWT dengan harapan diberikan yang terbaik untuk Kota Yogyakarta dalam tahun baru Islam.

Itulah ritual yang paling sering dilakukan paranormal dan para penganut Islam Kejawen yang amat kental. Semoga bermanfaat untuk anda, salam sejahtera.

 

 6,667 total views,  2 views today