Lawan Lupa, Konflik SARA Dimulai Dari Aksi Bakar Pecinan di Kudus Tahun 1918

476
Koleksi Benda Pusaka Hasil Penarikan Ghaib

Lawan Lupa, Konflik SARA Dimulai Dari Aksi Bakar Pecinan di Kudus Tahun 1918 – Konflik antara Pribumi dan etnis Tionghoa sebenarnya sudah lama terjadi. Bahkan dimulai sejak tahun 1918, jauh sebelum Indonesia merdeka. Masih ingatkah anda dengan sejarah yang terjadi di Kudus (Jawa Tengah) tahun 1918? Sejarah mencatat adanya kasus provokasi terbesar di negeri ini pada tahun itu dimana umat Islam bentrok dengan pedagang Tinghoa. Tak heran juga sebagian besar masyarakat Kudus saat ini dihuni oleh etnis Tionghoa dan membuat keturunan pribumi menikah dengan etnis Tionghoa. Tionghoa semakin berkembang biak di Kudus, dan hal ini memunculkan konflik SARA antara pribumi dan etnis Tionghoa.

Ulasan tentang kasus SARA ini semakin meruncing tatkala kasus yang menimpa Gubernur Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama yang diduga melakukan penodaan Agama Islam gencar dibicarakan. Seakan mengingat masa kelam, tragedi pembunuhan massal dan terror pada etnis Tionghoa yang terjadi pada Mei 1998. Kasus Pribumi vs Tionghoa seakan tak kunjung usai, terus terulang dan terulang. Konflik tersebut dimulai saat peristiwa / aksi bakar pecinan di Kudus. Benarkah isu SARA dimulai dalam peristiwa tersebut? Mari simak kisahnya.

Bersama tim Majalah Parapsikologi sekarang sudah ada Kang Masrukhan seorang paranormal dari Kudus Jawa Tengah. Beliau mengingatkan pada kita tentang sejarah masa lalu yang terjadi di Kudus.

“Ya, kita harus tahu ya kala itu di abad ke-20 dimana abad itu adalah periode kebangkitan dan pertumbuhan nasionalisme Indonesia. Konflik pribumi dan Tionghoa itu awalnya adalah masalah ekonomi yaitu perdagangan dimana Tionghoa waktu itu memonopoli perdagangan. Orang China itu sih biasa ya soal dagang gitu emang pinter dia. Lalu kemudian Sarekat Dagang Islam yang berkembang menjadi Sarekat Islam pimpinan HOS Tjokroaminoto memiliki kancah di bidang ekonomi, sosial dan politik. Sudah itu mulai perang antara Islam dan Tionghoa sampai ada aksi Bakar Pecinan di Kudus”, ungkap Kang Masrukhan.

Memang, dahulu Sarekat Islam (SI) memiliki anggota yang amat luas. Mulai dari kelompok elite agama, para haji-haji, guru, santri, petani dan buruh serta beberapa pegawai pemerintah. Mereka menjadi pengurus Inti dan banyak sekali yang menjadi anggota. Pengurus inti kebanyakan terdiri dari para haji dan guru agama, dengan ketua H. Jufri (pengusaha rokok kretek) wakil ketua H. Moh. Mufid dan sekretaris H. Zuhdi.

Kesadaran agama dan kebangsaan yang berkembang diberbagai lapisan masyarakat Kudus menemukan ilmu alat, berupa aksi-aksi protes dan propaganda yang lebih radikal karena pengaruh faham sosialisme Semaun. Aksi-aksi dan berbagai provokasi pun dilakukan mulai saat itu. Kemudian terjadilah aksi bakar Pecinan yang menjadi ujung dari perseteruan sengit ini.

Kronologi Kejadian Aksi Bakar Pecinan atau peristiwa Kudus 1918

Kala itu orang Cina / etnis Tionghoa hendak melakukan upacara keagamaan dengan melakukan pawai keliling dengan mengarak Toa Pek Kong guna menolak penyakit influenza. Arak-arakan ini harus melewati Masjid Menara Kudus untuk bisa mengelilingi Kudus Kulon dan Wetan. Saat pawai banyak peserta pawai yang berteriak “Ya Allah ya Nabi, Allah hanyalah satu” dengan mengenakan pakaian haji. Lanjut pada pawai yang kedua, bertambah lagi orang Tionghoa yang berpakaian haji, bahkan masing-masing membawa tambur.

Hingga di pawai terakhir tanggal 30 Oktober peserta pawai berpakaian haji ditemani dua perempuan dengan pakaian “perempuan nakal” naik pedati dan saling “berpegangan”. Kerumunan orang banyak yang menonton dan pekerja yang sedang memperbaiki Masjid Menara menjadi marah yang melihat perilaku orang berpakaian haji namun kelakuannya seperti itu. Ketika pekerja sedang mengangkut batu dari Kali Gelis, berpapasan dengan pawai dan bertabrakan dengan pedati pembawa pakaian haji. H. Sanusi yang membawa gerobak batu dipukul kepalanya oleh seorang Tionghoa. Ketika kerumunan orang mengetahui H. Sanusi dipukul orang Tionghoa, serentak menyerang peserta pawai dengan teriakan “Yaa Rasulullah Sabil”. Peristiwa kerusuhan berlangsung selama tiga hari dengan korban jiwa dan harta yang banyak.

Aksi bakar pecinan dalam peristiwa Kudus tahun 1918 ini diawali dari sensitifitas agama, ketersinggungan yang amat sangat saat agama dijadikan candaan dan bahan lecehan. Oleh karenanya sebagai pakar Spiritual, Kang Masrukhan memberikan tanggapannya dalam aksi bakar Pecinan yang terjadi pada peristiwa kudus 1918 ini.

“Persoalan agama, jika digunakan sebagai alat analisis konflik sebenarnya hanya sebagai pemicu saja. Apalagi alasan rasialisme, yang menurut ajaran agama Islam tidak dikenal, bahkan bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an. Sedangkan faktor ekonomi, penghisapan kekayaan rakyat lewat perilaku rentenir Tionghoa, pajak jalan dan pasar yang sangat membebani, penguasaan tanah yang tiba-tiba dan penduduk yang ada didalamnya dianggap hanya sebagai pekerja, kekayaan etnis Tionghoa yang mencolok mata. Dan yang terpenting, kesadaran rakyat melawan penindasan menjadi modal utama rakyat menyerang. Itu kan peristiwa Kudus. Beda lagi dengan kasus pak Ahok ini. Dia tanpa sengaja menyinggung Islam yang kebetulan lagi panas Pilkada. Wah sasaran empuk, udah itu aja. Anda Ahok Islam, dia gak ikut Pilkada ya aman-aman saja saya rasa”, pungkas Kang Masrukhan

Koleksi Benda Pusaka Hasil Penarikan Ghaib