Kisah Sejarah Dibalik Aksara Jawa

1780
Kisah Sejarah Dibalik Aksara Jawa
Koleksi Benda Pusaka Hasil Penarikan Ghaib

Kisah Sejarah Dibalik Aksara Jawa – Merupakan salah satu budaya Jawa sebagai warisan nenek Moyang kita pada jaman dahulu yang sangat berharga dan wajib dilestarikan. Namun di jaman modern seperti sekarang ini, jarang sekali kita temui orang yang mengerti mengenai aksara ini. Kebanyakan orang enggan untuk mempelajari aksara Jawa, bahkan orang-orang Jawa sendiri tidak tahu tentang kebudayaan Jawa. Sungguh sangat disayangkan. Jika ditelisik lebih jauh asal-usul terciptanya aksara Jawa, ada sebuah kisah sejarah yang penting untuk diketahui. Kisah tersebut berawal dari seorang pemuda bernama Ajisaka dan kedua abdi dalemnya yang bernama Dora dan Sembada. Baca terus untuk tahu bagaimana ceritanya, ini dia!

Alkisah, ada seorang pemuda yang amat rupawan bernama Ajisaka yang tinggal di pulau Majethi. Pemuda ini tinggal bersama dengan dua orang abdi atau punggawanya bernama Dora dan Sembada yang keduanya amat sakti serta setia kepada Ajisaka. Suatu hari Ajisaka ingin pergi mengembara meninggalkan Majethi dan ia menunjuk Dora sebagai pengawalnya dalam mengembara. Sembada pun disuruh untuk tetap tinggal di Majethi, dan ia pun menitipkan pusakanya dengan berpesan kepada Sembada supaya pusaka tersebut tidak diserahkan kepada siapapun kecuali pada Ajisaka sendiri.

Kisah lain menceritakan, bahwa di Pulau Jawa ada sebuah kerajaan yang amat tersohor bernama kerajaan Medhangkamulan. Kerajaan ini dipimpin oleh seorang Raja yang bijaksana bernama Dewatacengkar. Beliau sangat mencintai rakyatnya sehingga seluruh rakyat di kerajaan ini makmur dan sejahtera. Suatu hari, juru masak kerajaan yang menyiapkan amkanan untuk Raja Dewatacengkar mengalami kecelakaan yaitu jari tangannya terpotong saat memasak.

Jari itupun tanpa ia sadari ikut masuk dalam makanan yang ia masak, dan ikut termakan oleh Raja Dewatacengkar. Rasa enak pada makanan itu membuat sang Raja bertanya, daging apakah yang dimasak oleh sang juru masak. Menyadari bahwa daging yang dimakan oleh Raja adalah daging manusia, sang juru masak pun disuruh untuk menghidangkan daging manusia setiap hari. Untuk itu, Raja menyuruh para patih Kerajaan untuk menyembelih rakyatnya setiap hari untuk dimasak dan dimakan sang Raja.

Kesehariannya yang dipenuhi dengan makanan dari daging manusia membuat Raja Dewatacengkar berubah 180 derajat, baik sifat maupun perilakunya. Dia menjadi Raja yang kejam dan bengis, taka da satupun yang berani menentang sang Raja. Daging yang ia makan berasal dari daging rakyatnya sehingga rakyat hidup dalam ketakutan. Saat itu juga Ajisaka dan Dora tiba di kerajaan Medhangkamulan. Mereka heran dengan keadaan yang sepi dan menyeramkan. Dari seorang rakyat, beliau mendapat cerita kalau raja Medhangkamulan gemar makan daging manusia. Ajisaka menyusun siasat. Dia menemui sang patih untuk diserahkan kepada Dewatacengkar agar dijadikan santapan. Awalnya sang patih tidak setuju dan kasihan. Tetapi Ajisaka bersikeras dan akhirnya diizinkan.

Dewatacengkar keheranan karena ada seorang pemuda tampan dan bersih ingin menyerahkan diri. Ajisaka mengatakan bahwa dia mau dijadikan santapan asalkan dia diberikan tanah seluas ikat kepalanya dan yang mengukur tanah itu harus Dewatacengkar. Sang prabu menyetujuinya. Kemudian mulailah Dewatacengkar mengukur tanah. Saat digunakan untuk mengukur, tiba-tiba ikat kepala Dewatacengkar meluas tak terhingga. Kain itu berubah menjadi keras dan tebal seperti lempengan besi dan terus meluas sehingga mendorong Dewatacengkar. Dewatacengkar terus terdorong hingga jurang pantai laut selatan. Dia terlempar ke laut dan seketika berubah menjadi seekor buaya putih. Ajisaka kemudian dinobatkan menjadi raja Medhangkamulan.

Setelah penobatan, Ajisaka mengutus Dora pergi ke pulau Majethi untuk mengambil pusaka andalannya. Kemudian pergilah Dora ke pulau Majethi. Sesampai di pulau Majethi, Dora menemui Sembada untuk mengambil pusaka. Sembada teringat akan pesan Ajisaka saat meninggalkan pulau Majethi untuk tidak menyerahkan pusaka tersebut kepada siapa pun kecuali kepada Ajisaka. Dora yang juga berpegang teguh pada perintah Ajisaka untuk mengambil pusaka memaksa supaya pusaka itu diserahkan.

Kedua abdi setia tersebut beradu mulut bersikukuh pada pendapatnya masing-masing. Dan akhirnya mereka berdua bertempur. Pada awalnya mereka berdua hati-hati dalam menyerang karena bertarung melawan temannya sendiri. Tetapi pada akhirnya benar-benar terjadi pertumpahan darah. Sampai pada titik akhir yaitu kedua abdi tersebut tewas dalam pertarungan karena sama-sama sakti.

Berita tewasnya Dora dan Sembada terdengar sampai Ajisaka. Dia sangat menyesal atas kesalahannya yang membuat dua punggawanya meninggal dalam pertarungan. Dia mengenang kisah kedua punggawanya lewat deret aksara. Berikut tulisan dan artinya:

Ha Na Ca Ra Ka
Ada sebuah kisah

Da Ta Sa Wa La
Utusan Satu Bersaudara

Pa Dha Ja Ya Nya
Mereka sama-sama sakti

Ma Ga Ba Tha Nga
Dan akhirnya semua mati

Begitulah sekilas kisah di balik aksara Jawa yang mengisahkan tentang Ajisaka beserta kedua punggawanya. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari cerita tersebut. Demikian dan terimakasih.

2,247 total views, 6 views today

Koleksi Benda Pusaka Hasil Penarikan Ghaib