Gunung Pucangan, Tempat Keramat untuk Pemujaan Segala Hajat

0
16169

Gunung Pucangan, Tempat Keramat untuk Pemujaan Segala Hajat – Setiap malam Jum’at Legi, Gunung Pucangan selalu ramai dipenuhi oleh orang-orang dari berbagai daerah. Mereka datang ke tempat keramat tersebut dengan berbagai tujuan, dan konon katanya segala permasalahan hidup bisa terselesaikan di Gunung Pucangan, salah satu tempat keramat yang dipercaya oleh masyarakat sekitar. Gunung yang terkenal sebagai tempat keramat ini terletak di Desa Cupak, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Lokasi Gunung Pucangan ini terletak beberapa kilometer dari Sendang Made dimana setiap tahunnya dijadikan tempat untuk ritual wisuda waranggana atau sinden tayub. Lokasinya yang cukup terpencil yaitu harus melewati hutan jati yang amat sepi tidak membuat warga setempat merasa takut. Tetap saja Gunung ini ramai dikunjungi oleh orang yang membawa niat tertentu.

Di tempat keramat ini bisa kita jumpai beberapa sendang, petilasan dan juga makam keramat. Ada sebuah sendang yang bernama Sendang Drajad yang konon kabarnya sendang ini dipercaya mampu meningkatkan derajat seseorang. Kemudian ada Sendang Widodaren yang dipercaya pada zaman dahulu sebagai tempat mandi para bidadari. Masyarakat percaya bahwa jika seorang wanita mandi di sendang widodaren, atau bahkan sekedar membasuh muka di tempat ini maka ia akan nampak awet muda dan aura kecantikannya keluar. Entah dipercaya atau tidak namun itulah mitos yang beredar di sendang widodaren ini.

 

Di kompleks yang terkenal sebagai tempat keramat ini terdapat juga makam Maling Cluring dan Maling Adiguna yang konon bisa masuk rumah melalui sorot lampu yang keluar dari celah-celah dinding. Kedua maling ini merupakan maling yang budiman, dan dikenal baik hati serta banyak cerita yang mengisahkan kedua maling ini banyak membantu warga sekitar. Diantara banyak makam di kompleks ini, makam yang paling keramat dan termashur adalah makam dari Dewi Kilisuci, putri Raja Airlangga yang memilih menjadi pertama daripada jadi ratu. Hal ini menyebabkan Kerajaan Airlangga dipecah menjadi dua menjadi Kahuripan dan Dhaha.

Menurut penduduk setempat, apabila malam Jumat Legi tiba maka banyak sekali peziarah yang datang ke tempat ini untuk melakukan berbagai ritual dan juga memberikan sesembahan. Ada yang datang membawa nasi ingkung beserta lauk pauknya untuk dikendurikan atau dimakan secara bersama oleh mereka yang kebetulan hadir di tempat keramat itu. Ketika mereka ditanya, ternyata hajat mereka adalah untuk mengirim doa kepada para leluhur, agar keluarga mereka yang sakit cepat disembuhkan. Ada juga yang bertujuan untuk mendapatkan pekerjaan, anaknya cepat lulus kuliah dan lulus sekolah, serta ada yang ingin lancar dalam usaha.

Menurut mbak Tik, salah satu juru kunci wanita yang menjaga tempat keramat tersebut orang datang ke Gunung Pucangan adalah orang-orang yang banyak mengalami masalah. Mulai dari masalah ekonomi, usahanya yang seret, jabatan tidak naik-naik, tak segera mendapatkan jodoh, dan segala permasalahan hidup lainnya. Meski banyak permasalahan hidup, lebih-lebih masalah ekonomi tetapi bukan berarti orang yang kaya tidak turut datang di tempat keramat ini. Mereka justru datang dengan hajat agar usaha dan pekerjaannya semakin mapan dan semakin baik lagi dari sebelumnya.

Menurut sang juru kunci, untuk semakin menambah yakin agar ritual di Gunung Pucangan membuahkan hasil yang maksimal, biasanya para peziarah terlebih dahulu disyaratkan harus mandi atau membersihkan diri mengunakan air di beberapa sendang yang lokasinya ada di sekitar makam Dewi Kilisuci. Setelah ritual membersihkan diri, peziarah bisa menghadap langsung ke makam Dewi Kilisuci dengan diantar oleh jurukunci. Doa pembuka biasanya dilakukan oleh jurukunci, setelah itu peziarah bisa langsung mengungkapkan maksud kedatangannya, baik dengan suara keras atau cukup dalam hati.

Meski begitu, tidak sedikit pula, yang mengungkapkan maksud dan tujuannya sambil disertai bernadzar. Misalnya, jika apa yang akan dilukukan sukses atau berhasil, ia berjanji akan datang lagi sambil mengadakan syukuran. Yang lebih heboh, bahkan pernah ada yang sukses luar biasa lalu kembali datang lagi sambil membawa seekor sapi untuk disembelih di tempat tersebut. Setelah sapi itu disembelih oleh penduduk sekitar yang kebanyakan terdiri dari keluarga jurukunci makam, daging sapi itu lalu dibagi-bagikan sebagai ungkapan rasa syukur anak nikmat yang telah diberikan Tuhan kepadanya.

Gunung Pucangan sebagai tempat ziarah yang favorit banyak orang sebenarnya sudah lama terjadi. Sarana dan prasarana yang terus diperbaiki membuktikan jika tempat ini memang sering menjadi jujugan orang yang ingin ngalap berkah. Berhasil tidaknya, memang tergantung masing-masing peziarah. Yang tidak boleh dilupakan saat ritual adalah menata hati agar iklas dan sabar dalam setiap tindak dan prilakunya. Sebab, iklas dan sabar terkadang menjadi faktor yang paling penting dalam keberhasilan seseorang dalam kehidupannya.

24,174 total views, 16 views today