Cerita Peta Harta Karun dan Bank Gaib Cirebon

0
8633

Cerita Peta Harta Karun dan Bank Gaib Cirebon – Cerita mengenai Harta Karun memang telah banyak kita dengar di dalam cerita dan dongeng anak-anak. Kita pasti berpikir bahwa harta karun merupakan istilah yang hanya ada dalam negeri dongeng. Namun pada kenyataannya harta karun lebih dekat dengan istilah Bank Gaib. Bank Gaib bukanlah makna bahasa yang sebenarnya, namun Bank Gaib merupakan istilah bermakna konotasi yang digunakan untuk menyebutkan tempat-tempat meminta pesugihan.

Lalu, Bagaimana Ceritanya sampai ada Bank Gaib dan Peta Harta Karun?

bank-gaibPada jaman dahulu, Kota Cirebon merupakan kawasan yang menjadi tempat berkumpulnya saudagar kaya dari berbagai Negara. Para saudagar kaya itu terlalu banyak harta sehingga tidak mungkin bagi mereka membawa harta mereka kemana-mana. Sehingga sejarah menceritakan bahwa para saudagar kaya ini konon menyimpan harta mereka di beberapa lokasi yang dianggap keramat.

Di sanalah mereka menumpuk harta kekayaan, dan seiring perkembangan zaman justru tempat-tempat keramat yang digunakan untuk menyimpan harta para saudagar kaya itu kini justru ramai dikunjungi oleh para peziarah. Mereka datang berharap mendapatkan kekayaan tersebut sebagai harta karun. Anehnya, hal ini seakan menjadi satu keyakinan dan kepercayaan secara turun temurun.

Tanah Jawa juga disebut sebagai tanahnya para wali karena disepanjang wilayah pantai utara Jawa Barat bagian timur banyak sekali terdapat makam para wali penyebar agama Islam. Sebagai pusat pemerintahan, tanah Jawa juga banyak dikunjungi oleh para tokoh penyebar agama Islam dan mereka pernah singgah di kota Cirebon. Syekh Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal dengan nama Sunan Gunung Djati merupakan tokoh yang berasal dari kota Cirebon, yang mana beliau adalah ulama yang masuk dalam jajaran wali sanga atau Wali sembilan. Bahkan pembangkang wali sanga yaitu Syekh Siti Djenar juga dimakamkan di kota Cirebon.

Sejarah kota Cirebon memang amat lekat dengan sejarah perkembangan Islam yang berawal dari para pedagang dari Arab serta Negara timur tengah lainnya. Kapal-kapal berlabuh di pelabuhan kota ini, yang bernama pelabuhan Muara Djati. Kapal-kapal tersebut datang untuk berniaga dengan masyarakat setempat. Ki Gendeng Tapa yang merupakan utusan dari kerajaan Galuh mendirikan pemukiman di Lemahwungkuk yang terletak kurang lebih 5 km ke selatan pelabuhan Muara Djati.

Banyak sekali pedagang dari luar dan dalam negeri yang bermukim disana sehingga pemukiman tersebut dinamakan Caruban yang berarti campuran. Selanjutnya, seiring perkembangan zaman nama Caruban berubah dan berganti menjadi Cerbon dan sekarang menjadi Cirebon.

Raja Padjajaran, Prabu Siliwangi kemudian mengangkat Ki Gede Alang-Alang sebagai kepala pemukiman dengan gelar Kuwu Cerbon. Seiring perkembangannya, Cirebon menjadi kota yang memiliki aktivitas ekonomi tinggi dan selalu ramai akan pedagang. Masyarakatnya mayoritas didominasi oleh para saudagar kaya yang menjadikan kota ini banyak diincar penjahat, perampok dan pencuri. Harta dari para saudagar kaya itulah yang menarik perhatian mereka. Sebab inilah para saudagar kaya ketakutan akan kehilangan hartanya dan akhirnya mereka semua sepakat untuk menimbun harta mereka di suatu tempat.

Dengan kesaktian sangat tinggi dari Prabu Cakrabuana yang tak lain adalah putra mahkota dari Prabu Siliwangi menyimpan harta mereka dalam suatu tempat rahasia. Tokoh-tokoh kota Cirebon yang dianggap sakti ditunjuk untuk menjaga harta tersebut. Hingga saat ini kota Cirebon dipercaya sebagai gudang harta kekayaan yang dapat diburu dan diambil oleh siapa saja yang menginginkannya asal ia tahu denah atau peta dimana harta itu disimpan.

Namun, usut punya usut denah tempat dimana harta karun itu tersimpan dijaga oleh makhluk halus dari bangsa Jin. Inilah awal cerita dari dana gaib. Dari desas desus yang beredar, orang-orang banyak sekali yang berdatangan untuk maksud dan tujuan tertentu. Maksud tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah untuk meminta pesugihan. Seperti yang telah banyak diketahui bahwa pesugihan berarti memainta kekayaan secara cepat.

Cara instan seperti ini tentu memiliki imbalan yang harus diberikan pada sosok yang membantu dalam mencari kekayaan. Sama halnya dengan syarat pesugihan lainnya, dana gaib ini juga meminta syarat-syarat tertentu pada sang pemburu pesugihan. Syarat yang diminta adalah berupa sesajen, kembang tujuh rupa, kemenyan dan juga darah kambing segar. Konon katanya, makanan kesukaan jin penunggu tempat tersebut adalah berupa darah kambing.

Siapapun yang meminta pesugihan di tempat tersebut harus memenuhi persyaratan tersebut di setiap malam selasa kliwon. Entah apa penyebab hari tersebut dijadikan hari sakral untuk melaksanakan ritual, namun yang pasti sudah begitu ketentuannya dari jaman nenek moyang dulu. Jika satu malam saja terlewat melakukan upacara ritual penyerahan sesajen pada sang gaib, maka malapetaka akan terjadi. Nasib buruk hingga taruhan nyawa pun menjadi imbalannya. Maka dari itu, selalu ada yang dikorbankan ketika kita memilih satu jalan yang dinamakan pesugihan.

Kaya memang menjadi satu hal yang didambakan setiap orang, bahkan dalam Islam kaya adalah hal yang sangat dianjurkan. Akan tetapi kita juga harus mempertimbangkan bagaimana cara kita mendapatkan kekayaan. Bila menggunakan cara yang membahayakan diri sendiri maka sebaiknya dihindari, namun jika kita mau berusaha keras demi kesuksesan maka Tuhan pun akan memberikan pertolongan.

6,206 total views, 2 views today