Babad Tanah Jawa, Bukti Indonesia Tak Mungkin Jadi Negara Khilafah

936
Koleksi Benda Pusaka Hasil Penarikan Ghaib

Babad Tanah Jawa, Bukti Indonesia Tak Mungkin Jadi Negara Khilafah – Berdirinya HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) di Indonesia jelas memiliki tujuan untuk menjadikan negeri bersemboyan Bhineka Tunggal Ika ini menjadi negara dengan konsep Khilafah. Bahkan, HTI sudah merambah dari Sabang sampai Merauke guna menyebarkan kepercayaan pada konsep Khilafah yang bertentangan dengan konsep Demokrasi. Padahal, jika kita menengok Babad Tanah Jawa yaitu dari legenda Ajisaka kita akan tahu betapa Indonesia memiliki keberagaman yang membuat negeri ini tercipta seperti sekarang ini. Tumbuh dan berkembang dengan fondasi 5 Agama yang telah diakui, jadi tidak hanya Islam saja.

Menilik Babad Tanah Jawa, dahulunya pulau Jawa adalah pulau terbesar dengan penduduk terpadat dan terpecah belah oleh persilangan laut utara dan selatan. Kemudian, pulau Jawa dipersatukan oleh Brahmana Agung bernama Shang Hyang Dewa yang memiliki kesaktian tinggi. Oleh Sang Hyang Dewa pulau yang dipersatukan ini dinamai Jowo Dwipo. Bahkan dari cerita leluhur, jauh sebelum ada manusia yang di Jawa para lelembut, demit dan setan telah lebih dulu menduduki pulau ini.

ARTIKEL MENARIK : Penarikan Pusaka Keris Ciung Wanara Prabu Siliwangi Dari Alam Ghaib

Namun setelah keturunan dari Shang Hyang Nurasa menduduki bumi Jawa (Shang Hyang Dewa) pulau itu disebut dengan nama bumi pengurip (bumi yang dihidupkan). Shang Hyang Dewa akhirnya moksa di puncak Gunung Tidar, setelah beliau menyatukan berbagai bangsa lelembut untuk menuju jalan Adil (kebenaran), dan dari keturunannya. Cerita Babad Tanah Jawa berlanjut. Semakin berkembang, lahirlah titisan dan wasilah turun temurun melalui Shanghyang Agung, seperti Shanghyang Citra Suma, Shanghyang Dinata Dewa, Shanghyang Panca Dria sehingga menjadi kerajaan yang absolut.

Cerita Babad Tanah Jawa : Lahirnya Tiga Aliran di Tanah Jawa

Dari kerajaan ini akhirnya berkembang tiga aliran di Jawa yaitu Hindu, Mokso Jawi dan Islam. Ketiga aliran inilah yang menjadi perlambang dan perwatakan penduduk Jawa sampai saat ini. Ketiga aliran ini mengajarkan sikap tenggang rasa, bekerja sama demi kemasyarakatan yang gemah ripah loh jinawai yang menjadi semboyan bagi masyarakat Jawa. Dari Babad Tanah Jawa inilah cerita penyebaran ketiga Agama ini sampai ke seluruh wilayah di Nusantara.

Satu hal yang paling penting yang diajarkan oleh Sang Hyang Dewa, yaitu Ilmu Aji Rasa manunggaling agung. Yang dimaksud disini adalah Tuhan bagi semesta alam. Tuhan adalah sang pencipta bagi seluruh umat, bagi seluruh semesta ini. Jadi apapun alirannya, apapun kepercayaannya mereka semua percaya Tuhan itu ada. Dalam Islam Tuhan disebut Allah, dan dalam aliran lain memiliki sebutan untuk Tuhan yang berlainan.

BACA JUGA : Asal Usul Kemunculan Dajjal

Lewat bait sansekerta Yunani yang mengupas di dalamnya, kebenaran, keadilan, kejujuran dan memahami sifat alam. Ilmu ini akhirnya diturunkan oleh bapaknya para dewa. Raden Nurasa kepada Nabiyullah Khidir a.s. dan dizaman Wali Songo nanti, ilmu ini dipegang dan menjadi lambang dari sifat kependudukan masyarakat Jawa oleh tiga tokoh Waliyullah, yaitu Sunan Kalijaga, Mbah Cakra Buana dan Khanjeng Syekh Siti Jenar.

Keris Sebagai Penengah Aliran Hindu – Islam

Dari Babad Tanah Jawa, ketiga tokoh ini memberikan suatu ajaran yaitu arti tirakat, mencegah hawa nafsu dan memahami makna rohani, simbol dari ajaran ilmu ini digambarkan sebagai bentuk keris. Keris menjadi suatu perlambang dari ajaran orang Jawa, bermula dari seorang Empu, bernama Ki Supo Mandragini. Ki Surpo Mandragini adalah murid dari Sunan Ampel yang diutus untuk membuat sebilah pedang sebagai perlambang makna dari Islam. Namun Oleh Ki Supo Mandragini, dibuat sebilah keris berluk 9.

Keris tersebut menjadi penengah antara ajaran Islam dan Hindu bagi orang Jawa, dengan sebutan Islam Kejawen, dan keris pembuatan Ki Supo diberi nama Kyai Sengkelat. Dari kedua aliaran diatas, Islam telah ada di pulau Jawa sejak abad ke 9. Ajaran ini dibawa dari kota Misri oleh seorang Waliyullah Kamil Syekh Sanusi dan muridnya Muhammaad Al Bakhry, dan baru masyhur tentang ajaran Islam di pulau Jawa pada abad 13 dan 14 atau zamannya para Wali Songo.

Awal Mula Terbentuknya Indonesia Adalah dari Keberagaman

Melihat sejarah dari Babad Tanah Jawa adalah sangat tidak mungkin bagi HTI untuk merubah dasar negara dan ideologi Bangsa. Jawa yang menjadi awal berdirinya negara Indonesia menjadi perlambang bahwa negara ini dibentuk dari perjuangan banyak aliran, banyak ajaran yang diakui. Kita tak bisa memaksakan kehendak setiap orang karena setiap warga negara berhak memilih kepercayaan yang dipeluknya selama itu ada sebuah kepercayaan yang diakui di Indonesia (bukan aliran sesat yang keluar dari konsep 5 Agama di Indonesia).

Kita harus menghargai sejarah, bukan karena perkembangan zaman yang penuh tekanan lantas kita lupa bagaimana perjuangan nenek moyang mewujudkan bangsa ini menjadi bangsa yang kaya dan penuh keberagaman. Semoga masyarakat Indonesia tetap teguh memegang nilai nilai Pancasila dan menjadikan UUD 1945 sebagai dasar hukum yang sah dan berlaku di Negeri ber-Bhineka Tunggal Ika ini.

 

1,851 total views, 6 views today

Koleksi Benda Pusaka Hasil Penarikan Ghaib